Fodium Kab. Serdang Bedagai : Pentingnya Majelis Sholawat di Era Artificial Intelligence

Ketua Fodium Kab. Serdang Bedagai Al-Faqir Deniansyah, M.H. Menjelaskan bahwa Fenomena majelis sholawat bukanlah hal baru di Indonesia, tetapi sudah menjadi tradisi bagi sebagian Masyarakat yang beragama Islam. Walaupun hal tersebut masyhur di wilayah Jawa dan kalangan “Islam Santri.” Tetapi di Sumatera Utara dan khusus Kab. Serdang Bedagai Majelis Sholawat memainkan peran yang disebut dengan “al-Da’wah al-Nabawiyah”.
Lebih lanjut dikatakan bahwa Majelis Sholawat juga menjadi tempat Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) yaitu membersihkan sifat-sifat negatif dan mengisinya dengan akhlak terpuji. Tidak hanya itu, kehadiran Majelis Sholawat juga sebagai praktik dari konsep “al-Hikmah” (kebijaksanaan berdasarkan pemahaman jamaah) dan juga “Mau’izhah al-Hasanah” (nasihat yang baik, penuh kasih dan menyentuh hati).
Di era Artificial Majelis Sholawat tidak kehilangan relevansinya, Justru, peranannya menjadi jauh lebih krusial sebagai penyeimbang spiritual dan krisis eksistensial yang dibawa oleh era serba otomatis ini.
AI mendorong otomasi dan kecepatan dalam segala aspek kehidupan. Hal ini kerap menciptakan kecemasan (anxiety), kelelahan mental (burnout), dan perasaan terasing (alienasi). Majelis Sholawat menawarkan ruang jeda dan ketenangan batin (Thuma’ninah). Sebagaimana firman Allah: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
AI mampu mengolah data dan mensimulasikan teks atau gambar, tetapi AI tidak memiliki ruh, kecerdasan emosional yang asli, maupun rasa khusyuk. Majelis zikir mempertemukan manusia secara fisik dan batin, menghidupkan kehangatan silaturahmi, persaudaraan (ukhuwah), dan rasa saling peduli yang tidak bisa digantikan oleh algoritma atau kecerdasan buatan.
Meskipun ilmu dan ceramah agama bisa diakses instan melalui AI (seperti AI chatbot atau mesin pencari), majelis Sholawat menghadirkan hal yang tak berwujud (intangible): barokah, bimbingan ulama/guru, dan keterhubungan sanad ruhani. Duduk bersama dalam majelis zikir mengundang kehadiran para malaikat yang melingkupi jemaah dengan rahmat dan ketenangan.
Di akhir pembicarannya bahwa Artificial Hanya menjadi alat (wasilah), sedangkan majelis Sholawat sebagai “Ghayah” (Pengarah atau penuntun untuk mencapai tujuan).
