VIRAL PARA ULAMA SEPUH, MASYAIKH DAN TOKOH NU SE-SUMATERA SUARAKAN PBNU SAMI’NA WA ATHO’NA DAWUH MASYAIKH DAN ZURRIYAT MUASSIS NU

Tidak ada jalan lain yang lebih maslahat agar jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera melaksanakan islah (perdamaian) atau diislahkan untuk menyelesaikan kisruh yang terjadi sejak Nopember sampai sekarang ini menurut para ulama sepuh, masyaikh dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) se-Pulau Sumatera
Pernyataan sikap bersama itu mereka sampaikan pada pertemuan silaturahim yang berlangsung di Pesantren Mawaridussalam Sumatera Utara di Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (14/12/2025) sore.
Para Ulama Sepuh, Masyaikh, dan Tokoh NU se-Sumatera yang hadir pada kesempatan itu antara lain Tgk KH Aqil Zikrullah dan Tgk KH Ibrahimi dari Aceh, kemudian KH Abdul Hamid Ritonga, Buya Syahrial Ams, KH Abdullah Harahap, KH Muhyiddin Masykur, KH Abdullah Nasution, Ustadz H Idrus Hasibuan, KH M Roihan Nasution, Syekh Nuruddin bin Amir, KH Sariman Al-Faruq, Buya Mardin Assidiqie, H Muhammad Daud, dan KH Akhyar Nasution dari Sumatera Utara.
Kemudian, KH Sholahudin Syargawi Al-Qodiri dari Jambi, Datok Kiyai Haji Endy Maulidi (Kepulauan Riau), KH Al Mawardi dan KH Ichsan Habibi (Bangka Belitung), KH Nur Kholidin dan Ustadz Heri Sulamto (Sumatera Barat), H. Khosairi (Riau), serta KH Soleh Bajuri, KH Imam Suhadi, dan H Okta Rijaya M (Lampung).
KH Abdul Hamid Ritonga didampingi Tokoh NU lintas generasi Syekh Syahrial Ams dan sejumlah ulama sepuh, masyaikh dan tokoh NU lainnya membahas perkembangan dan kondisi NU saat ini, sekaligus menyampaikan sikap.
Ritonga yang juga Rois PWNU Sumut ini memimpin pertemuan silaturrahim itu dalam mukadimahnya menjelaskan bahwa pertemuan tersebut didasari niat bersama untuk menjaga marwah jam’iyyah sebagai tempat berkumpulya para ulama. “Pertemuan ini didasari rasa ikhlas dan harap dari Allah Swt agar terjadi islah sebagai jalan terbaik di jajaran PBNU,” ujar KH Abdul Hamid.
Meskipun terjadi perbedaan pendapat peserta pada saat masing-masing menyampaikan masukan dan saran, pada akhirnya mengerucut dalam satu kesepakatan yang dituangkan sebagai pernyataan sikap bersama para Ulama Sepuh, Masyaikh dan Tokoh Nahdlatul Ulama.
Pernyataan sikap bersama para Ulama Sepuh, Masyaikh, dan Tokoh NU se-Sumatera yang dibacakan Kyai Hamid itu meliputi :
Pertama, menyerukan kepada PBNU untuk islah sebagaimana dawuh masyaikh NU di Ploso dan di Tebuireng demi kemaslahatan jama’ah dan jam’iyah.
Kedua, islah dapat dilakukan dengan keikutsertaan unsur AHWA, mustasyar, dan zuriyat muassis NU untuk menegaskan kembali posisi mandataris muktamar NU ke-34 di Lampung, yaitu KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2021-2026.
Ketiga, mengajak seluruh PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk mematuhi dawuh masyaikh NU dan senantiasa istighatsah dan berdoa memohon kepada Allah SWT untuk NU yang semakin kuat dan jaya demi kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan rahmat bagi semesta.
Para Ulama Sepuh dan Kiyai di Pulau Sumatera pentingnya mengingatkan PBNU agar jangan sampai NU menjadi terpecah-belah yang efeknya jauh lebih besar, sebaiknya bisa diselesaikan dengan Islah.
