Ulama Sepuh, Masyaikh dan Tokoh NU Se – Pulau Sumatera Suarakan Islah Pada Konflik PBNU

(Medan) – Para Ulama Sepuh, Masyaikh dan Tokoh NU Se-Pulau Sumatera Melakukan silaturahim di Pondok Pesantren Mawaridussalam membahas perkembangan dan kondisi NU saat ini. Medan, Pada hari Minggu, 14/12/2025.
Acara silaturahim ini dilaksanakan di Kota Medan dan dihadiri oleh para Ulama Sepuh dan Kiyai serta tokoh NU dari berbagai Provinsi di Pulau Sumatera.
Turut berhadir dari Provinsi Aceh Tgk KH Akil Zikrullah dan Tgk KH Ibnu Ibrahimi. Dari Provinsi Sumatera Utara KH Abdul Hamid Ritonga, Buya Syahrial Ams, KH. Abdullah Harahap, KH Muhyiddin Masykur, KH Abdullah Nasution, KH Sariman al Faruq, Syekh Nuruddin, Buya Mardin Assidiqie, KH Akhyar Nasution, H. Idrus Hasibuan, H. Muhammad Daud, KH Roihan Nasution.
Dari Jambi KH Sholahuddin Syargawi al-Qodiri, dari Kepulauan Riau Datok Kiyai Haji Endy Maulidy, dari Riau H. Khosairi. Bangka Belitung KH Al Mawardi dan KH Ichsan Habibi. Sumatera Barat Ustad Heri Sulamto dan KH Nur Kholidin, dan dari Lampung H Okta Rijaya M, KH Soleh Bajuri, KH Imam Suhadi.

Pertemuan silaturahim tersebut guna membahas perkembangan dan kondisi NU saat ini.
Adanya Islah menjadi sebuah keharusan, dan jangan sampai berlarut larut. hal ini disuarakan oleh mayoritas Ulama Sepuh dan Masyayikh yang berhadir.
KH Sholahuddin Syargawi al Qodiri dari Provinsi Jambi menyatakan bahwa kisruh yang berlarut akan merugikan NU sendiri. Pendapat KH Sholahuddin Syargawi senada dengan pendapat ulama asal Provinsi Lampung KH Soleh Bajuri bahwa Islah ini menjadi jalan keluar.

KH Abdul Hamid Ritonga yang mimimpin acara silaturahim tersebut bahwa pertemuan ini didasari niat bersama untuk menjaga marwah organisasi dan di inisiasi para ulama sepuh dan masyayikh non struktural NU.
“Silaturahim ini didasari rasa ikhlas dan harap dari Allah agar terjadinya Islah yang menjadi solusi terbaik di jajaran PBNU”, ujar Kiyai Hamid.
Acara silaturahim berlangsung dengan khusyuk dan penuh antusias. Para ulama sepuh dan masyaikh serta tokoh NU se – Pulau Sumatera memiliki pandangan dan perspektif yang beranekaragam, yang akhirnya menyamakan dan menetapkan satu kesepakatan.
Pertama, menyerukan kepada PBNU untuk Islah sebagaimana dawuh masyaikh NU di Ploso dan Tebuireng demi kemaslahatan jama’ah dan jam’iyah.
Kedua, islah dapat dilakukan dengan keikutsertaan unsur AHWA, mustasyar, dan zuriyat muassis NU untuk menegaskan kembali posisi mandataris muktamar NU ke-34 di Lampung, yaitu KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2021-2026.
Ketiga, mengajak seluruh PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk mematuhi dawuh masyaikh NU dan senantiasa istighatsah dan berdoa memohon kepada Allah SWT untuk NU yang semakin kuat dan jaya demi kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan rahmat bagi semesta.
Ulama Sepuh dan para masyaikh yang ada di Pulau Sumatera akhirnya memiliki satu pandangan yang sama, bahwa pertemuan dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera menginginkan adanya Islah demi kemaslahatan yang jauh lebih besar.
