Pesugihan Politik

Oleh: Deniansyah Damanik, S.H. M.H.

Serangkaian efek perebutan kekuasaan berdampak panas terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun pemilu. Sudah barang panas, kekuasaan politik menjadi alat memanipulasi keadaan peradaban. Teori menyebutkan “lebih bagus menang dalam keadaan curang, daripada menanggung kekalahan.”

Singkat kata, pesugihan politik merupakan serangkaian ritual pekerjaan yang dipercaya bisa digunakan untuk memperoleh kemenangan secara instan dan atau tidak melalui jalan pintas.

Ibarat “pesugihan”, ada sejumlah variabel yang harus ada, antara lain: 1) pelaku pesugihan, 2) kuncen (juru kunci), 3. Sesajen (semahan), 4) Jenis Pesugihan, 5) tokoh utama dari jenis pesugihan,6) tempat pesugihan, 7) ritual utama pesugihan, 8) hasil pesugihan.

Begitu juga dengan perpolitikan, ibarat pelaku pesugihan di dalam politik ada namanya politikus. Bukan berarti pemaknaan kepada keterikatan dengan “tikus”, melainkan politikus merupakan istilah untuk orang yang memainkan seni politik. Seni yang dimainkan tentu memiliki tujuan (visi dan misi), tidak ada tanpa kepentingan apapun.

Untuk mencapai target tujuan, politikus menjalin kerjasama kepada politikus lainnya, ibarat pesugihan ada yang namanya juru kunci (kuncen). Sesama politikus memainkan peranan terhadap tujuan yang ingin dicapai politikus lain. Istilah kata “pesugihan politik” tidak bisa dilakukan sendirian, tetap ada tim suksesnya.

Kuncen inilah nantinya menjadi penghubung dan membuka rahasia dari tokoh utama jenis pesugihan, atau istilah kata (pemilik modal/bandar). Ibarat dunia pesugihan, pelaku pesugihan harus memenuhi syarat – syarat untuk melakukan pesugihan. Inilah tugas kuncen untuk membuka prasyaratnya agar mulus dalam melakukan ritual (bargaining) agar tokoh utama jenis pesugihan mau memberikan modal.

Bukan seperti pesugihan hakiki yang harus memenuhi syarat bunga, dupa, menyan, ayam hitam, jeruk purut, dan sajian lainnya. Sesajen pesugihan politik menyajikannya dalam bentuk hitam di atas putih, kesepakatan bersama, istilah kerennya “kesepakatan politik”. Sang kuncenlah (politikus yang sebagai penghubung kepada politikus lainnya) nantinya yang akan memaksimalkan roda tim sukses dan tim pemenangan. Oleh karenanya kuncen bukan orang yang sembarangan, dia dekat dengan bandar/pemilik modal/pemegang kekuasaan.

Setelah semua syarat sudah terpenuhi, kuncen dan pelaku pesugihan bisa berdiskusi jenis pesugihan apa yang mau diikuti. Ibaratnya kapal apa yang mau digunakan untuk berlayar ? hal inilah istilah dalam politik merupakan partai; lembaga; kelompok masyarakat; tim sukses; jalan yang ditempuh, dll yang bisa mengantarkan politikus mencapai tujuannya. Ibarat pesugihan, ada pesugihan monyet, pesugihan pocong, genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul, dan lain sebagainya.

Jenis pesugihan ini yang akan memainkan peran dalam membantu pelaku pesugihan mencapai tujuannya. Dalam artian, inilah jalan sepemikiran tim sukses untuk bisa satu tujuan dan satu visi. Jenis pesugihan politik mengarah kepada jenis individual atau kelompok apa yang membantu politikus. Bahasa kekiniannya “benderanya apa ?”.

Dari benderanya apa (jenis pesugihannya) nanti akan diketahui tokoh utama jenis pesugihan. Ibarat sebuat partai/satu kelompok ada yang namanya ketua partai, ketua kelompok, pemegang kekuasaan; pemilik modal; bandar; orang yang menentukan. Mereka inilah nantinya yang akan memberikan hasil pesugihan dan bisa menentukan kekuasaan atau hasil suatu kesepakatan. Ibarat pesugihan hakiki, jika jenis pesugihan monyet maka nantinya jin dari bangsa monyet yang akan memberikan dan membantu pesugihan, jika jenis pesuguhan tuyul atau wewe gombel, jin kelompok makhluk ghaib tersebut yang membantu seseorang untuk kaya; banyak uang; sukses bisnisnya, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya dari jenis pesugihan dan tokoh utama jenis pesugihan dalam perpolitikan memainkan peran yang penting untuk mencapai tujuan politikus.
Ibarat pesugihan ini semua tidak akan sukses jika tempat pesugihan dan ritual utamanya tidak dijalankan. Ibarat pesugihan hakiki: tempat pesugihannya bisa digunung. Seperti gunung kemukus, Arjuno, Kawi, Lawu, dll. Pantai, atau Hutan dan lain sebagainya. Yang ritual utamanya nanti berbebeda-beda tergantung jenis pesugihannya. Begitu juga dengan pesugihan politik, dimana tempat bargaining/kesepakatan dengan bandar/pemilik modal/pemegang kekuasan/penentu arah kebijakan tidak bisa sembarangan. Ada tempat-tempat tertentu yang terkadang tidak diketahui publik, dan terkadang juga ada yang outdoor. Ada juga ritual utama pesugihan politik yang dijalankan apakah hal ini berupa lobi-lobi, konsolidasi, suap-menyuap, manipulasi berkas, pemaksaan dan penekanan, penggunaan alat kekuasaan, pengerahan aksi masa, hoaks, dan lain sebagainya.

Jika hal-hal di atas sudah dilakukan, sedikit banyak maka mulailah hasil pesugihan kelihatan. Hidupnya kaya, bisnisnya lanca. Begitu juga dengan pesugihan politik hasil dan tujuan utamanya akan tercapai dan berhasil memegang kendali utama kekuasaan yang dinginkan.

Akan tetapi perlu dicatat, ibarat pesugihan hakiki. Ada hal yang sengaja memang tidak dicantumkan di atas. Yaitu adalah yang ke-9 dan 10.

Apa itu ? Ibarat kata dalam dunia pesugihan tidak ada yang geratis. Yang kesembilan dalam pesugihan yaitu adalah adanya “Tumbal”, begitu juga dengan pesugihan politik. Tidak ada yang geratis di dunia ini. Harus ada yang dikorbankan. Inilah kejamnya pesugihan politik itu. Banyak hal yang menjadi korban, dan banyak yang dikorbankan. Entah berupa uang, jabatan, status sosial, harta, keluarga, sebidang tanah, harga diri, dll.

Dan yang ke-10, ini yang sakral. Tidak bisa dibicarakan disini. Mari kita berdiskusi dan saya akan menyampaikan ini dihadapan saudara sekalian (hehe).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *